fip.ung.ac.id, Gorontalo – Supervisi terhadap penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah merupakan kegiatan yang urgen.Urgensi supervisi dimaksud tidak lepas dari suprevisi sebagai upaya mendorong dan membimbing para guru bimbingan dan konseling (guru BK/konselor) agar senantiasa melaksanakan tugasnya secara profesional dan senantiasa meningkatkan profesionalismenya secara berkelanjutan.

Hingga saat ini istilah Intelligence Quotient atau kecerdasan intelektual, Emotional Qoutient atau kecerdasan emosi, dan Spiritual Quotient atau kecerdasan spiritual lebih banyak dikenal dibandingkan dengan Social Intelligence (SI). Berbagai kecerdasan ini yakni IQ, EQ, SQ dan SI sangat dibutuhkan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan yang senantiasa mengalami perubahan dan semakin kompleks. Kecerdasan sosial sangat membantu dalam membangun relasi yang harmonis dan produktif dengan orang lain, dengan tetangga, rekan kerja ataupun dengan atasan.

Kecerdasan sosial merupakan kemampuan diri seseorang dalam berinteraksi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Kecerdasan sosial juga mencakup kemampuan memahami diri sendiri dalam kaitannya dengan orang lain, memahami serta mampu menyesuaikan dengan perasaan dan pikiran orang lain, serta mengatasi konflik yang timbul dalam interaksi sosial.

Prabhavathi (2012) mengartikan kecerdasan sosial adalah kemampuan untuk bergaul dengan baik dengan orang lain dan membuat orang lain mau bekerja sama dengan kita. Kecerdasan sosial kadang-kadang disebut keterampilan sosial, mencakup kesadaran akan situasi dan dinamika sosial, dan pengetahuan tentang gaya dan strategi interkasi yang dapat membantu seseorang mencapai tujuannya dalam berhubungan dengan orang lain. Kemampuan ini juga melibatkan wawasan diri dan kesadaran diri dari persepsi dan pola reaksi seseorang.

Daniel Goleman (2007: 443) mengidentifikasi delapan unsur kecerdasan sosial, yakni: (1) empati, yang berarti mampu memahami perasaan orang lain. Orang dengan kecerdasan sosial mempunyai kemampuan merasakan perasaan orang lain, serta mampu merasakan isyarat-isyarat emosi nonverbal seperti bersedih, kecewa, marah, kesal, dan lainnya; (2) penyelarasan, yakni bagaimana individu mampu untuk mendengarkan dengan terbuka dan memahami apa yang disampaikan orang lain. Seseorang dengan kecerdasan sosial mempunyai kemampuan untuk mendengarkan dengan efektif, artinya mampu menyelaraskan diri dengan perasaan orang lain;

(3) ketepatan empatik, yakni kemampuan untuk memahami pikiran dan perasaan orang lain. Memahami pikiran dan perasaan orang lain menjadikan individu akan mampu untuk mengerti maksud dari orang lain; (4) kesadaran sosial, yakni pengetahuan tentang dunia sosial, bagaimana seluk beluknya serta bagaimana dunia sosial tersebut bekerja. Pengetahuan tersebut, akan memudahkan bagi individu dalam berinteraksi dengan orang lain,

(5) sinkronisasi, yakni bagaimana individu bisa berinteraksi secara efektif dengan memahami bahasa nonverbal/bahasa tubuh seperti ekspresi wajah, pandangan mata, gerak tubuh dan sebagainya. Orang yang memiliki kecerdasan sosial mampu memahami bahasa tubuh dari orang yang berinteraksi dengannya. Melalui ekspresi wajah lawan bicaranya, dia bisa mengetahui apakah lawan bicaranya tersebut sedang marah, emosi, kesal atau kecewa; (6) presentasi diri, berkaitan dengan bagaimana individu menampilkan dirinya dengan efektif ketika berinteraksi dengan orang sekitarnya;

(7) pengaruh, orang dengan kecerdasan sosial mampu memberikan pengaruh positif kepada orang-orang yang berinteraksi dengannya, mampu mempengaruhi orang lain untuk berbuat sesuatu; dan (8) kepedulian yang merupakan bentuk kecerdasan sosial yang paling tinggi. Unsur ini menekankan bagaimana individu peduli akan kebutuhan orang lain, yang ditunjukkan dengan melakukan tindakan yang sesuai dengan kebutuhan hal tersebut. Semakin individu bersimpati dengan seseorang dalam kesusahan dan merasa peduli, semakin besarlah dorongannya untuk menolong mereka.

Sebagai makhluk sosial, manusia harus berinteraksi dengan sesama. Interaksi itu  membutuhkan kemampuan setiap orang untuk menjadi mitra interaksi yang baik, sehingga tercipta interaksi yang harmonis, positif dan produktif. Interaksi yang harmonis, positif dan produktif akan terwujud jika setiap orang memiliki kecerdasan sosial.

Empati menjadi penting dalam kehidupan sosial, sebab adanya empati membuat kita mampu memahami perasaan (empati perasaan) dan pikiran orang lain (empati pikiran), mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain, dan mampu memahami apa yang dipikirkan orang lain. Kondisi ini tentu saja akan menimbulkan rasa saling memahami baik perasaan maupun pikiran sehingga terwujud kenyamanan bagi kedua belah pihak.

Kepedulian ditunjukkan dengan perilaku peduli pada kebutuhan orang lain dan melakukan tindakan sesuai dengan kebutuhan tersebut. Peduli pada kebutuhan orang lain menjadikan kita mampu memberikan sesuatu, baik berupa materi maupun perhatian yang dibutuhkan orang lain. Terpenuhinya kebutuhan akan menimbulkan perasaan tenang dan damai.

Adanya pengaruh dalam interaksi sosial sering tidak dapat dapat dielakkan. Pengaruh yang timbul dapat berupa pengaruh dalam aspek perasaan, pemikiran dan sikap, yang selanjutnya terwujud dalam bentuk perilaku ataupun tindakan. Interaksi yang positif ditandai dengan adanya pengaruh atau saling pengaruh yang bersifat positif dan bukan pengaruh bersifat negatif; adanya perubahan perasaan, pemikiran dan sikap yang negatif menjadi  perasaan, pemikiran dan sikap yang positif, dan bukan sebaliknya.

Penggunaan bahasa ataupun kata-kata yang efektif, mudah dipahami, dan disampaikan dengan cara yang sopan sangat dibutuhkan dalam sebuah interaksi sosial yang baik. Penggunaan bahasa akan menjadikan kita menjadi mitra interaksi yang menyenangkan dalam berbagai kalangan, baik dari segi usia, status akademik, maupun status sosial lainnya.

Menjadi pendengar yang baik dalam sebuah percakapan merupakan aspek penting diperhatikan dalam interasksi sosial. Pendengar yang baik ditandai dengan adanya perhatian tentang bahan percakapan, memberikan respon baik secara verbal (dengan kata-kata) maupun non verbal (dengan gerakan, misalnya: memandang lawan bicara, anggukan kepala, senyuman dan gerakan tubuh lainnya), serta tidak melakukan hal-hal yang mengganggu, misalnya sibuk dengan hand-phone, atau melakukan kegiatan lain.

Berbagai tindakan sosial, seperti menjadi pemicu terjadinya konflik antar individu dan kelompok, korupsi, memperkaya diri sendiri di tengah-tengah kesulitan ekonomi masyarakat, lebih mementingkan diri sendiri dari pada orang lain, kurang mampu menjadi pendengar yang baik, sulit berbagi dengan orang lain, kurang peka terhadap kebutuhan orang lain, kurang peduli terhadap orang lain, memberikan pengaruh negatif terhadap perasaan dan pikiran orang lain; merupakan bentuk-bentuk perilaku sebagai wujud kecerdasan sosial yang rendah. Pertanyaan yang perlu dijawab secara pribadi adalah “apakah kita telah memiliki kecerdasan sosial?”

Leave a Comment