fip.ung.ac.id, Opini – Anak-anak manusia dilahirkan dalam keadaan suci, baik, dan beragama, tetapi mereka tetap membutuhkan bantuan orang dewasa untuk tumbuh dengan baik yang membutuhkan proses yang cukup memakan waktu, untuk menjadi mandiri yang bergama dan moralitas yang terarah. Meskipun mereka ketika dilahirkan dalam keadaan suci bisa saja, proses pertumbuhannya kurang baik karena kurangnya dukungan dari lingkungan yang ditinggalinya.

Untuk mengembangkan nilai-nilai agama dan moral bagi anak-anak adalah melakukan proses pelyanan yang dilakukan guru kepada murid untuk tujuan penghayatan pada keyakinan dan moralitas supaya mereka tumbuh menjadi orang yang memahami nilai keagamaan dan kualitas moral yang elok. Pengembangan keberagamaan dan moralitas anak-anak usia dini terkait dengan pengembangan seluruh kecerdasan ganda anak-anak secara terpadu pengembangan nilai agama dan moral bagi kanak-kanak merupakan Pendidikan karakter. Tujuannya adalah agar mereka tumbuh menjadi dewasa yang berkarakter. Menjalani hubungan baik antara dirinya dan Tuhannya, antara manusia, lingkungan hidupnya, berbangsa dan bernegara, dan individu.

Lingkungan Pendidikan yang kondusif dan baik sangat menentukan pertumbuhan anak-anak menjadi orang baik, itupun kalau Tuhan menghendakinya. Adapun Pendidikan yang kurang baik hampir-hampir dapat dipastikan akan mengembangkan anak-anak menjadi orang yang kurang baik. Untuk itu, dalam proses Pendidikan anak-anak kita, baik terdidik maupun pendidik perlu senantiasa berdoa untuk pertumbuhan anak-anak menjadi orang yang baik yang kebergamaann dan moralitasnya baik.

Masa di usia dini adalah banyak dinyatakan oleh para ilmuan sebagai “ golden age” atau masa usia emas. Disebut masa emas dikarenakan dimasa ini sedang terjadilah pertumbuhan dan prkembangan sel-sel otak yang sangat pesat. Pertumbuhan otak bagaikan bunga yang sedang mekar. Diera sedang mekar-mekarnya, pertumbuhan otak ini diperlukan pebiasaan serta rangsangan pertumbuhan agar anak-anak menjadi cerdas. Cerdas secara intelektual, emosional, moral, dan spiritual, dengan hal ini menjadikan anak lebih berkualitas pada nilai keagamaan serta moral.

Pada diri setiap anak, menurut Howard Gardner, seorang psikolog dan ahli Pendidikan dari Universitas Harvard Amerika Serikat, telah merumuskan multiple intelligences. Menurut penelitian Gardner, pada setiap diri anak tersimpan Sembilan jenis kecerdasan dasar yang siap berkembang. Sembilan kecerdasan dasar itu adalah kecerdasan:

  1. Linguistic
  2. Logik Matematik
  3. Spasial
  4. Kinestetik
  5. Musical
  6. Inter-personal
  7. Intra-personal
  8. Naturalis
  9. Eksistensial

Sembilan kecerdasan ini, semuanya, terutama pada anak usia dini perlu difasilitasi pertumbuhan dan perkembangannya. Pertumbuhan seluruh kecerdasan tersebut sangat diperlukan bagi pengembangan diri anak-anak. Pengembangan keberagamaan dan moralitas anak-anak usia dini terkait dengan pengembangan seluruh kecerdasan ganda anak-anak secara terpadu. Maka pembelajaran terpadu di pandang sebagai pendekatan dalam pembelajaran untuk mengembangkan keberagamaan dan moralitas anak-anak usia dini. Pengembangan NAM dan moral bagi anak usia dini, sesungguhnya merupakan Pendidikan karakter. Tujuannya adalah agar mereka memiliki karakter yang baik, dan juga sebagai pendukung untuk mencapai nilai moral dan keagamaan yang berkualitas.

Dalam hal ini bahwa benarlah kutipan “setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan suci”, dalam keadaan baik, dan dalam keadaan sudah beragama; namun demikian lingkungan dimana anak-anak tumbuh (lingkungan keluarga misalnya, pengaruh orang tua, atau lingkungan sekolah, atau lingkungan masyarakat tempat anak-anak tumbuh dan berkembang) ikut menentukan pertumbuhan keberagamaan dan moralitas anak-anak. Meskipun dilahirkan mereka adalah anak-anak yang suci, baik, dan beragama, namun Ketika mereka tumbuh dilingkungan yang kurang tepat, bisa saja mereka menjadi orang-orang tidak beragama, atau keberangamaanya buruk, atau moralitasnya buruk. Jadi, pengembangan NAM dan moral menjadi sangat penting dalam proses pertumbuhan anak-anak sejak usia dini.

Pengembangan NAM dan moral pada dasarnya adalah proses pembelajaran dan difasilitasi oleh guru kepada murid dalam rangka agar terjadinya penghayatan atau internalisasi nilai-nilai agama dan nilai-nilai moral, agar mereka menjadi orang-orang yang beragama dan bermoral tinggi. Dengan terinternalisasikan nilai-nilai agama dan moral pada diri anak-anak, maka keyakinan yang dimiliki oleh anak tersebut bisa lebih berkualitas serta menjadi penggerak perilaku mereka, sehingga perilakunya bergerak menuju kerberagamaan dan moralitas yang baik.

Jadi, dalam mendidik seorang anak, hal yang paling utama ditanamkan dan diajarkan kepadanya ialah penanaman moral dan agama yang baik serta Pendidikan karakter yang menjadi pendukung kualitas nilai agama dan moralnya tersebut. Sebaiknya pula dalam hal ini anak yang ingin dibina harus dengan sabar diajarkan dari hal-hal yang sangat mendasar dan itu bisa didapatkan dimana saja tergantung lingkungan dimana ia tumbuh. Sebab agama dan moral adalah pondasi utama dalam membentuk karakter seorang manusia. Jika manusia tidak memiliki keinginan yang besar untuk mengubah dirinya maka hal yang paling dasar pun akan sia-sia. Maka dengan begitupun mendidik anak untuk mengembangkan nilai agama dan moral memerlukan konsistensi dan kesabaran yang tinggi agar anak tumbuh dengan agama dan moral yang berkualitas.

Itulah mengapa pembelajaran nilai agama, dan moral bagi anak usia dini sangat penting sebagaimana yang kita pahami Anak-anak bagaikan selembar kertas putih yang masih bersih Dan apa yang kita tulis dengan tinta hitam yang akan terpatri pada diri anak tersebut . Maka darinya semenjak dini anak harus diajarkan dan dibiasakan hal-hal yang baik menurut moral dan agama tentunya hal ini selaras dengan beberapa pernyataan diatas mengenai nilai moral dan karakter tersebut. Tentunya hal ini bertujuan untuk memberikan sang anak bekal saat menghadapi kehidupan di hari-hari berikutnya hingga ia dewasa.

Pengajaran kepada anak memang tidak harus keras dan memaksa. Cara ampuh sebagai orang yang lebih mengerti dari mereka ialah memberikan contoh yang baik dan selalu mengayomi anak, mengajarkan apa yang ia tidak ketahui sebagai orang dewasa, Sebab anak adalah peniru yang ulung. Kita yang dalam kesehariannya berada di sekitar anak, akan diperhatikan dan dicontoh oleh mereka. Untuk itu berikanlah contoh yang baik karena dengan hal itu membuat mereka percaya dengan apa yang dilakukan selaras dengan perkataan.

Penulis:

Nurhayati Tine1, Artika2, Noval3, Juniar4, Dini5, Welin6, Indawat7, Ni Putu Indah8, Susan9, Delfi10, Amalia11, Indriyati12, Fani13, Siti Nurhalizah14, Fatmawati15, Safira16, Rinda17, Sucitra18, Greisita19, Putri20, Meyra21, Mira22, Sintia23, Salsa24, Safna25, Lestari26, Niken27, Rizkyastuti28, Siti Atunna29.

Pg-Paud UNG Gorontalo

Leave a Comment