fip.ung.ac.id, Gorontalo – Menjadi narasumber pada Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Dr. Pupung Puspa Ardini, M.Pd, MCE menjelaskan pola asuh generasi alfa di era digital, Jumat (03/03/2023), di Aula Fakultas Ekonomi UNG.

Dr. Pupung Puspa Ardini, M.Pd, MCE mengatakan, Pola Asuh terdiri dari 2 kata pola dan asuh. Pola adalah model, sistem, atau cara kerja sedangkan Asuh adalah menjaga, merawat, mendidik, membimbing, membantu, melatih, dan sebagainya.

“Pola asuh tidak lain merupakan metode atau cara yang dipilih pendidik dalam mendidik anak-anaknya yang meliputi bagaimana pendidik memperlakukan anak didiknya (Gunarsa,2000)”

“Pola asuh sendiri memiliki definisi bagaimana orang tua memperlakukan anak, mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak dalam mencapai proses kedewasaan, hingga kepada upaya pembentukan norma-norma yang diharapkan oleh masyarakat pada umumnya. (Casmini,2007),” ujar Pupung.

Pupung mengatakan, jenis-jenis pola asuh (Baumrin dan Hurlock) antara lain: Pola Asuh Authoritarian merupakan pola asuh yang membatasi dan menghukum. Orang tua mendesak anak untuk mengikuti arahan mereka dan menghargai kerja keras serta usaha. Orang tua authoritarian secara jelas membatasi dan mengendalikan anak dengan sedikit pertukaran verbal.

“Pola asuh Authoritative mendorong anak untuk mandiri namun tetap meletakkan batas-batas dan kendali atas tindakan mereka. Pertukaran verbal masih diizinkan dan orang tua menunjukkan kehangatan serta mengasuh anak mereka”

“Pola Asuh Neglectful merupakan gaya pola asuh di mana mereka tidak terlibat dalam kehidupan anak mereka. Anak-anak dengan orang tua neglectful mungkin merasa bahwa ada hal lain dalam kehidupan orang tua dibandingkan dengan diri mereka” ujarnya.

Seminar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, Jumat (03/03/2023)

Lebih jauh, Wakil Dekan Bidang Akademik FIP UNG itu menjelaskan, Pola Asuh Indulgent merupakan gaya pola asuh di mana orang tua terlibat dengan anak mereka namun hanya memberikan hanya sedikit batasan pada mereka.

“Orang tua yang demikian membiarkan anak-anak mereka melakukan apa yang diinginkan. Pola Asuh Secara umum dipengaruhi oleh: Responsiveness (daya tanggap) dan demandingness (tuntutan)”

“Selanjutnya, Generasi Alpha yaitu generasi yang lahir dari tahun 2011- sekarang (2025). Generasi ini sejak lahir sudah berdampingan dengan teknologi. Anak-anak yang tumbuh dengan smartpnoe dan Ipad ditangan (Mark McCrindle, ahli demograf dan futuristic),” jelasnya.

Dirinya menjelaskan, Era Digital adalah suatu kondisi zaman ataupun kehidupan yang mana seluruh kegiatan yang mendukung kehidupan sudah bisa dipermudah dengan adanya teknologi yang serba canggih. Selain itu, era digital juga hadir demi menggantikan beberapa teknologi masa lalu agar bisa lebih modern dan juga lebih praktis.

“Saat ini kita sudah masuk pada masa Society 5.0. Society 5.0 ini adalah masa di mana teknologi-teknologi ini menjadi bagian dari manusia. Society 5.0 merupakan solusi dari revolusi 4.0 yaitu memanusiakan manusia dengan teknologi”

“Jadi, Pola Asuh seperti apa yang tepat?. Yaitu dengan memperhatikan tahapan perkembangan, kebutuhan, minat dan bakat anak, mendampingi anak saat bermain gadget, tidak menjadikan gadget sebagai solusi atau reward, menggunakan aeroplane mode, membatasi waktu bermain gadget maksimal 2 jam sehari, menumbuhkan Adversity Quotitent anak dengan menstimulasi, self-confidence, spirit of trying /do it my best, commitment, consistent, consequence, discipline, responsibility,” ucapnya.

Leave a Comment