fip.ung.ac.id,Palu-Peran akademisi dari Universitas Negeri Gorontalo kembali mendapat pengakuan penting. Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan (BK FIP UNG) dipercaya menjadi narasumber utama dalam kegiatan Kuliah Umum dengan tema “Membangun Budaya Cinta Damai dan Anti Kekerasan Layanan Bimbingan dan Layanan Konseling di Era Digital” yang diselenggarakan oleh Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako. Kegiatan ini berlangsung pada Hari Rabu 28 Agustus 2025 di Gedung Aula FKIP Universitas Tadulako, dengan rangkaian acara sejak pagi hingga sore hari.
Kegiatan Kuliah Umum ini secara resmi dibuka oleh Dekan yang diwakili oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Dr. Humaedi, S.Pd., M.Pd., yang didahului sambutan oleh Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) FKIP UNTAD Dr. Ikhlas Rasido, S.Psi., M.Psi. Kuliah Umum dihadiri oleh Sekretaris Program Studi Ilmu Pendidikan, dan para dosen di Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Tadulako. Narasumber Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan (BK FIP UNG) Dr. Tuti Wantu, M.Pd., Kons, dan Mohamad Awal Lakadjo,M.Pd, Dosen dan Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP UNTAD yang berjumlah 120 orang.
Dr. Tuti Wantu, M.Pd., Kons, menjadi pembicara pertama dengan materi tentang pentingnya menjadi calon guru Bimbingan dan Konseling memahami perundungan dan memiliki kerendahan hati budaya. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa “pentingnya calon guru Bimbingan dan Konseling (BK) memahami isu perundungan (bullying). Pemahaman ini bukan hanya sebatas definisi dan dampaknya, tetapi juga menyangkut bagaimana calon guru Bimbingan dan Konseling (BK) mampu mengenali tanda-tanda, memahami akar penyebab, serta membangun empati terhadap korban”.
Selain itu, beliau menyoroti perlunya kerendahan hati budaya (cultural humility), yaitu sikap rendah hati dalam menghargai perbedaan latar belakang budaya siswa. “Hal ini penting agar guru bimbingan dan Konseling (BK) tidak bersikap bias atau menghakimi, melainkan mampu memberikan layanan konseling yang inklusif, adil, dan sesuai dengan kebutuhan siswa dari berbagai budaya. “ ungkap Dr. Tuti Wantu, M.Pd., Kons.
Materi berikutnya dibawakan oleh Mohamad Awal Lakadjo, M.Pd dengan topik strategi pencegahan dan penanganan perundungan di era digital bagi seorang guru Bimbingan dan Konseling (BK). Ia mengingatkan bahwa guru Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah juga harus melakukan pencegahan dengan memberikan literasi digital kepada siswa, menanamkan etika berkomunikasi di dunia maya, membangun budaya sekolah yang sehat, serta melibatkan orang tua dalam pengawasan.
“Guru bimbingan dan Konseling (BK) harus cepat merespons laporan perundungan, memberikan pendampingan psikologis kepada korban, menengahi konflik dengan pendekatan restoratif, serta bekerja sama dengan pihak sekolah dan pihak luar (misalnya ahli TI atau aparat hukum) jika kasusnya berat ” jelas Mohamad Awal Lakadjo, M.Pd.
Sepanjang kegiatan, suasana diskusi berlangsung hangat. Para peserta aktif bertanya dan berbagi pengalaman, sementara para narasumber memberikan jawaban yang aplikatif dan inspiratif. Kuliah umum ini tidak hanya menjadi forum penyampaian materi, tetapi juga ruang interaksi antara guru dan akademisi, sehingga pengetahuan yang diperoleh terasa lebih dekat dengan realitas di kampus.
Kehadiran dosen Program Studi bimbingan dan Konseling (BK) FIP UNG sebagai narasumber dalam Kuliah Umum ini sekaligus menunjukkan sinergi yang kuat antara Universitas Tadulako dengan Universitas Negeri Gorontalo untuk memperkaya wawasan para mahasiswa sebagai calon guru Bimbingan dan Konseling (BK).
#fipung_zonaintegritas
#reformasibirokrasi
#wilayahbebaskorupsi
#birokrasibersihdanmelayani
#zonaintegritas
#UNGmenujuPTNBH