FIP UNG

Forum FIP-JIP 2023 di Yogyakarta, Dosen Penmas FIP UNG Paparkan Indeks Pendidikan

fip.ung.ac.id, Gorontalo – Forum Fakultas Ilmu Pendidikan–Jurusan Ilmu Pendidikan (FIP-JIP) tahun 2023 telah diselenggarakan di The Alana Hotel and Convention Center Yogyakarta, 5-7 Juli 2023 mengusung tema “Transformasi Ilmu Pendidikan sebagai Landasan Utama Membangun Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia Unggul”

Forum ini menjadi wadah untuk mendiskusikan, bertukar pikiran dan gagasan, serta menyebarluaskan berbagai kebijakan dan pengalaman praktik pendidikan yang telah dilakukan. Juga sebagai Upaya memperkaya peluang kerjasama antar perguruan tinggi sebagai wujud kemitraan yang kolaboratif dalam menyelenggarakan Tridharma Perguruan Tinggi.

Untuk berpartisipasi pada kegiatan tersebut, tiga dosen dari prodi Pendidikan Masyarakat (Penmas) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yakni Prof. Dr. Abdul Rahmat, M.Pd, Dr. Abd. Hamid Isa, M.Pd, dan Drs. Yakob Napu, M.Pd turut berperan sebagai pemakalah pada conferensi internasional tersebut.

Prof. Dr. Abdul Rahmat, M.Pd, Guru Besar Manajemen Pendidikan Masyarakat ini memaparkan hasil penelitiannya akan rendahnya indeks Pendidikan Indonesia.  Secara makro, indeks pendidikan di Indonesia masih relatif rendah. Kondisi ini ditunjukkan dengan sejumlah indikator yang membangun kerangka indeks pendidikan tersebut.

“Berdasarkan data BPS RI (2022), angka rata-rata lama sekolah (RLS) secara nasional pada 2022 baru sebesar 8,69. Angka RLS ini hanya meningkat 0,15 poin dari 2021, yakni sebesar 8,54 (BPS RI, 2022). Dengan angka RLS ini menunjukkan bahwa jika dirata-ratakan penduduk di Indonesia dalam rentang usia tertentu, hampir lulus dengan SMP”

“Tentunya kondisi ini masih jauh dari harapan Indonesia Emas 2045. Selain itu, berdasarkan data BPS RI (2022), angka harapan lama sekolah (HLS) secara nasional pada 2022 masih sebesar 13,10. Angka HLS ini hanya meningkat 0,02 poin dari 2021, yakni sebesar 13,08 (BPS RI, 2022). Kondisi ini menunjukkan bahwa anak-anak di Indonesia yang berusia 7 tahun ke atas hanya memiliki rata-rata peluang untuk menamatkan pendidikan formal setara dengan Diploma 1 (D-1),” ujar Prof. Rahmat.

Prof. Rahmat mengatakan, di samping statistik indeks pendidikan yang relatif rendah, perlu dicermati jika sepanjang 2022 terdapat sejumlah isu-isu terkait dengan pendidikan yang disorot dan menjadi diskursus publik secara luas. Isu tersebut mencakup aspek regulasi, kebijakan, dan program, serta iklim dunia pendidikan yang belum sepenuhnya kondusif.

“Isu pembentukan Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) menjadi salah satu hal yang paling banyak diperbincangkan di ruang publik. Pasalnya, pembentukan RUU ini menimbulkan berbagai problematik dan polemik yang cukup panjang. Diskursus terkait dengan naskah akademik dan materi muatan RUU Sisdiknas dinilai tidak memiliki filosofi yang jelas”

“Forum Fakultas Ilmu Pendidikan–Jurusan Ilmu Pendidikan (FIP-JIP) menjadi wadah untuk mendiskusikan, bertukar pikiran dan gagasan, serta menyebarluaskan berbagai kebijakan dan pengalaman praktik pendidikan yang telah dilakukan. Juga sebagai upaya memperkaya peluang kerjasama antar perguruan tinggi sebagai wujud kemitraan yang kolaboratif dalam menyelenggarakan Tridharma Perguruan Tinggi,” ucap Prof. Rahmat.

Ia menjelaskan, faktor pendidikan akan menjadi investasi penting untuk meningkatkan daya saing daerah di masa yang akan datang. Salah satu ukuran keberhasilan pembangunan di bidang pendidikan yang dilakukan pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah adalah Indeks Pendidikan. Indeks Pendidikan adalah komponen yang menyusun Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Tinggi rendahnya IPM suatu daerah tergantung dari komponennya.

“Semakin tinggi nilai komponennya maka akan semaikin tinggi pula indeks IPM. Diperlukan strategi agar indeks pendidikan dapat meningkat di masa yang akan datang. (1) menganalisis pengaruh alokasi belanja pemerintah daerah bidang pendidikan dengan indeks pendidikan, (b) menganalisis faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap indeks pendidikan, (c) merumuskan strategi yang dapat meningkatkan indeks pendidikan.”

“Berdasarkan hasil analisis, faktor-faktor yang secara signifikan mempengaruhi indeks pendidikan yaitu variable alokasi belanja pemerintah daerah bidang pendidikan, pendapatan per kapita, angka partisipasi sekolah SMP, angka partisipasi sekolah SMA, dan rasio murid guru tingkat SD. Strategi untuk meningkatkan indeks pendidikan melalui alokasi belanja pemerintah daerah bidang pendidikan berdasarkan metode AHP, yaitu: (a) pemerataan kuantitas tenaga pendidik, (b) beasiswa siswa kurang mampu, (c) rehabilitasi ruang kelas, (d) penambahan jumlah sekolah formal dan non formal, (e) diklat/workshop untuk tenaga pendidik, (f) bantuan biaya operasional pada sekolah non formal,” ujarnya.

Prof. Dr. Abdul Rahmat, M.Pd Foto Bersama dengan Menko PMK dan Rektor UNG, Rabu (05/07), di The Alana Hotel and Convention Center Yogyakarta