FIP UNG

Futuristik, Oleh: Prof. Dr. Fory Armin Naway, M.Pd

fip.ung.ac.id, Gorontalo – Istilah “Futuristik” yang diserap dari Bahasa Inggris “Futuristic”, selama ini lebih identik dengan rancang-bangun atau desain suatu bangunan yang menghadirkan nuansa dan kesan yang unik,modern,minimalis yang seolah-olah membawa orang yang melihat atau mengunjunginya berada pada “masa depan”.

Namun dalam kaidah tentang hakekat manusia yang berpikir dan dinamis, maka istilah futuristik dapat dimaknai sebagai sebuah konsep, rancangan dan desain tentang masa depan (future) yang sebenarnya, tidak hanya identik dengan sebuah konstruksi bangunan.

Futuristik sebagai sebuah konsep, berarti berbicara tentang pikiran, tindakan, bahkan idealisme dan spirit tentang masa depan. Sebuah konstruksi  bangunan yang disebut futuristik misalnya, , sudah pasti berawal dari sebuah ide, gagasan yang bersumber dari pikiran dan kemudian dirancang, didesain serta diwujudkan melalui berbagai upaya hingga kemudian berwujud dari tidak ada menjadi ada serta membawa manfaat bagi kehidupan.

Istilah futuristik dengan demikian, memiliki korelasi yang erat dengan akal budi manusia sebagai makhluk yang berpikir, berdaya dalam berkarya merancang masa depan kehidupan dan kemanusiaan.

Meski demikian, satu hal yang pasti, bahwa futuristik sebagai sebuah konsep tentang masa depan, tidak lantas mengabaikan aspek-aspek historis yang berbasis masa lalu dan kekinian, melainkan menjadi sebuah rangkaian mata rantai yang tak terputus. Bahkan boleh disebut, faktor-faktor tentang masa lalu dan aspek yang berbasis kekinian, tetap menjadi fondasi hingga melahirkan ide, gagasan dan konsep yang berbeda dan terkesan unik.

Disitulah kekuatan daya kreasi berpikir itu tengah diuji dan dipraktekkan ke dalam ranah memanifestasikan hidup sebagai sebuah seni. Dalam merancang sebuah konsep yang konstruktif, di dalamnya sudah pasti ada motivasi, panggilan nurani, spirit menghadirkan rasa dan frasa kemanusiaan yang tinggi senantiasa terpatri sehingga dalam setiap prosesnya dihiasi oleh sentuhan-sentuhan kelembutan hati, idak ada keluh-kesah dan keterpaksaan.

Berkat hal itulah kemudian, konsep, hasil rancang bangun, ide, gagasan dan kreasi berupa karya  yang dihasilkan memiliki nilai futuristik yang unik, tampil berbeda yang pada akhirnya memberi kesan sebagai sebuah karya yang bernilai tinggi. Tidak heran, jika orang-orang yang menghasilkan karya-karya futuristik dalam sepanjang sejarah, selalu dikenang sebagai orang yang hebat, dikenang sebagai inspirator bagi generasi sesudahnya. Meski jiwa-raganya telah mati, namun nama dan karyanya tetap hidup.

Dalam ranah kehidupan yang sesungguhnya, karya futuristik dapat dimaknai secara lebih luas sebagai konsep untuk merancang dan mendesain masa depan secara konstruktif yang dapat dilakoni oleh setiap individu-individu, minimal untuk masa depannya sendiri, masa depan keluarganya dan bersyukur mencakup masa depan daerah dan negaranya.

Artinya, masa depan itu harus dirancang, direncanakan dan didesain yang kemudian    proses konstruksinya dibangun secara konsisten tidak menyimpang dari konsep yang telah dirancang sebelumnya.

Jika menoleh jalan hidup dari mereka yang berhasil menggapai kehidupan yang futuristik, unik dan berwawasan ke depan, baik di Indonesia maupun di luar negeri, maka terdapat beberapa nilai yang menjadi sumber pembelajaran yang berharga. Diantaranya adalah, keteguhan hati untuk  tidak melewatkan waktunya secara sia-sia. Umumnya, orang-orang yang hebat dan mampu berkarya itu adalah mereka yang mampu menempatkan dirinya sebagai “pejuang” bukan “pecundang”. Ia tidak pernah menyibukkan diri untuk membicarakan “urusan orang lain’, melainkan ia fokus dalam menggagas ide dan pikiran tentang masa depannya secara elegan.

Orang-orang yang hebat, sukses dan berprestasi atau orang yang berpikir dan berhasil membangun konsep futuristik dalam alam berpikirnya,  biasanya ada sesuatu yang dikorbankan, yakni mengorbankan waktunya untuk membicarakan tentang ide, gagasan dan masa depannya sehingga ia sama sekali  tidak memiliki waktu untuk berkutat dengan kebiasaan “primitif” yang senang membicarakan orang lain,menggunjing, memfitnah dan menyusun taktik untuk menjatuhkan orang lain. Eleanor Roosevelt pernah berkata : ‘orang hebat berbicara mengenai ide-ide, orang biasa tentang kejadian sekitar, dan orang kecil berbicara tentang orang lain.

Jika dimaknai secara global, ungkapan Kolumnis dan mantan First Lady Amerika Serikat itu ada benarnya juga. Umumnya, negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang dan negara-negara Eropa menjadi maju dan berkembang serta mampu melahirkan karya-karya futuristik, karena warga negara di sana, sama sekali tidak memiliki waktu untuk merancang dan merekayasa”menjatuhkan” atau mensabotase  orang lain apalagi temannya sendiri. Mereka menyibukkan diri untuk membangun performance masing-masing agar mampu berkarya dan berkompetisi secara sehat.

Mereka juga memiliki tradisi untuk berkolaborasi dalam kebaikan dan kemajuan dan sama sekali meninggalkan kebiasaan-kebiasaan manusia  primitif yang terkadang gemar mencari musuh, enggan berkolaborasi, hanya  merasa nyaman dengan kelompoknya serta selalu menunjukkan ketidaksenangan terhadap mereka yang di luar kelompoknya.

Aspek-aspek inilah yang menjadi resistensi bagi kemajuan di negeri ini. Kita seakan masih berada di dunia lain. Ketika negara-negara di belahan dunia lain  sudah berbicara tentang ide-ide dan gagasan brilian tentang masa depan, kita masih sibuk berkutat dengan bagiamana saling bertahan dan saling menjatuhkan diantara sesama kita. Daerah lain sudah berlari jauh untuk masa depan, kita justru tidak sadar tengah menjauhkan kemajuan dengan saling menjatuhkan dan seakan enggan berkompetisi secara sehat. (***)