FIP UNG

Hasilkan Lulusan Berkarakter & Mandiri, Prof. Novianty Djafri Lakukan Pendampingan Strategi Kepala Sekolah dalam Menyiapkan Guru dan Sekolah Penggerak di Kabupaten Boalemo

fip.ung.ac.id, Gorontalo – Dalam rangka mewujudkan dan menghasilkan lulusan yang berkarakter dan mandiri, tim pengabdian kepada masyarakat yang diketuai oleh Prof. Dr. Novianty Djafri, M.Pd.I melakukan pendampingan strategi kepala sekolah dalam menyiapkan guru dan sekolah penggerak di Kabupaten Boalemo, Senin (17/07/2023).

Guru Besar Tetap Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) itu mengatakan, salah satu terobosan baru untuk mendukung tujuan pendidikan adalah dengan Sekolah Penggerak (Syafi’i, 2021). Program Sekolah Penggerak adalah upaya pemerintah untuk mewujudkan visi pendidikan Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya pelajar Pancasila.

“Ciri utama Program Sekolah Penggerak adalah berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik yang mencakup kompetensi literasi dan numerasi, serta karakter, dengan sumber daya manusia kepala sekolah dan guru yang unggul (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2021)”

“Program Sekolah Penggerak didasari oleh lima fonemena tantangan dunia pendidikan (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2021). Tantangan pertama adalah ekosistem. Pada era ini terjadi perubahan yang signifikan. Bersekolah bukan lagi hanya sebagai tugas, namun juga sebagai kegiatan yang menyenangkan,” ujar Prof. Novi.

Menurutnya, pimpinan juga bukan lagi sebagai pengatur, namun sebagai pemberi pelayanan (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2021). Tantanga kedua terletak pada guru. Fenomena guru sebagai pelaksana kurikulum tidak relevan lagi, sebab kini guru sebagai pemilik dan pembuat kurikulum.

“Tantangan ketiga yaitu pada pedagogi dengan tantangan utamanya adalah pembelajaran yang tidak lagi berpusat pada guru atau pembelajaran yang hanya menggunakan metode ceramah, namun pembelajaran berorientasi pada siswa. Tantangan keempat  terletak pada kurikulum. Pada kurikulum, focus utamanya berubah dari kegiatan akademik ke soft skill dan pengembangan karakter”

“Sedangka untuk tantangan yang terakhir adalah sistem penilaian. Pada fenomena ini, terjadi perubahan dimana penilaian bersifat sumatif berubah ke penilaian bersifat formatif atau mendukung (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2021). Sekolah Penggerak dihadirkan karena abad 21 membutuhkan sistem pendidikan yang mempromosikan keterampilan dan kompetensi untuk masa depan, tidak terkecuali kreativitas, pemikiran kritis, kolaborasi, dan komunikasi (Triyanto, 2020),” ucap Prof. Novi.

Lebih jauh, Kaprodi S3 Ilmu Pendidikan PPs UNG ini menjelaskan, Triyanto (2020) juga menyebutkan bahwa pada abad 21, sekolah penggerak mengutamakan pelayanan pembelajaran tidak hanya dilakukan secara konvensional (tatap muka), tetapi juga dapat dilakukan dalam jaringan (daring) dengan memadukan berbagai komponen teknologi.

“Kepala sekolah dalam Menjalankan tugas-tugas pokoknya harus menerapkan strategi yang tepat (Amini, Pane, & Akrim, 2021). Etisnawati (2020) menjelaskan bahwa kunci suksesnya strategi kepala sekolah adalah adanya kepribadian yang baik dan dapat dicontoh oleh rekan sejawat, memiliki kompetensi professional dalam bidang manajerial, memahami ilmu mengenai teori dan praktik pendidikan atau kurikulum, serta mampu mendesain pembelajaran dengan baik.

“Strategi yang dirancang oleh kepala sekolah ini juga akan efektif jika mampu menggerakkan, memberikan motivasi, dan mempengaruhi orang-orang. Dengan demikian, kepala sekolah bersedia melakukan tindakan-tindakan yang terarah pada pencapaian tujuan melalui keberanian mengambil keputusan tentang kegiatan yang dilakukan sehingga mencapai tujuan pendidikan sekolah (Rizky, Puput, & Af’idah, 2021).

Prof. Novi mengatakan, melalui Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Nomor 6555/C/HK.00/2021 tentang Penetapan Satuan Pendidikan Pelaksana Program Sekolah Penggerak, terseleksi 382 sekolah tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat baik negeri maupun swasta sebagai Pelaksana Program Sekolah Penggerak Angkatan I Tahun 2021.

“Sekolah-sekolah tersebut tersebar di seluruh Indonesia mulai dari Provinsi Aceh hingga Provinsi Papua, termasuk Provinsi Gorontalo juga, di kota dan kabupaten Gorontalo. Pendampingan Strategi kepala sekolah di upayakan agar terus bersinergi dengan pemerintah daerah dan stakeholder untuk optimalisasi guru penggerak dan sekolah penggerak dalam peningkatan kompetensinya, agar sekolah penggerak lebih maksimal”

“Kegiatan pengabdian kolaboratif antara dosen dan mahasiswa pascasarjana dengan pemerintah Kabupaten Boalemo ini merupakan tridharma dosen dalam bidang pengabdian dan untuk meningkatkan kolaborasi anatara pemerintah daerah, Perguruan Tinggi, dosen dan mahasiswa. Tim pengabdian masyarakat ini terdiri dari Prof. Dr. Syamsu Q. Badu, M.Pd, Dr. Heldi V. Alam, M.Si, dan Apriyanto A.J Pauweni, M.Pd, serta satu orang mahasiswa S3 PPs UNG Ilmu Pendidikan Bapak Kamaruddin,” pungkasnya.