FIP UNG

Webinar Nasional, Prof. Novi Dorong Revitalisasi Budaya di Kalangan Generasi Muda

fip.ung.ac.id, Gorontalo – Revitalisasi budaya merupakan upaya penggalakan kembali budaya tradisi yang hampir punah. Setiap daerah memiliki budaya yang juga akan di wariskan kepada para generasi muda milenial, maka pelaku budaya harus terus melestarikan budaya lokal.

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Novianty Djafri, M.Pd.I selaku narasumber pada Webinar Nasional yang diselenggarakan oleh mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan PPs UNG yang mengusung tema Revitalisasi Pembelajaran Seni Budaya Polopalo Berbasis Nilai Kearifan Lokal Masyarakat Gorontalo, Selasa (16/05).

“Budaya lokal harus diperkenalkan sejak dini kepada anak-anak, khusus untuk seni music polopalo, para usia generasi remaja, dianggap sangat baik baik dalam memainkan alat musik polopalo, agar keteraturan bunyi suara yang dihasilkan oleh alat musik akan terkesan menarik dan indah terdengar”

“Sehingga, dalam mengenal dan melestarikan budaya lokal sebagai bagian penting dari penerapan pelestarian budaya lokal oleh anak siswa SMP, sebab usia ini sudah dapat membedakan bagian  suara alat musik,” jelas Prof. Novi.

Guru Besar Tetap Jurusan Manajemen Pendidikan FIP UNG itu mengatakan, cara memainkan alat musik polopalo ini yakni dilakukan dengan memukulkan untuk membunyikan alat musik tersebut, maka alat musik polopalo ini disebut alat music dengan jenis idiofon yaitu golongan alat musik yang sumber bunyinya berasal dari badan alat itu sendiri.

“Bunyi yang terdengar keluar berasal dari alat Polopalo tersebut yakni ketika mendapat pukulan atau dipukul, yang diakibatkan getaran yang terdapat pada seluruh alat polopalo, sehingga memudahkan siswa2 untuk mengkolaborasikan dengan lagu-lagu modern dan dapat pula di kembangkan ke dalam bentuk diatonic, tangga nada, seperti alat musik angklung dan lainnya, sehingganya hal ini adalah merupakan alat musik yang notasinya telah dikembangkan.

“Tujuan merevitalisasi alat music seni polopalo, kedalam proses pembelajaran adalah untuk menunjang nilai-nilai pendidikan karakter siswa/siswi dalam merevitalisasi budaya tradisi sebagai kearifan lokal masyarakat gorontalo, yang memiliki unsur budaya penting untuk menjaga agar di lestarikan dan tidak terlupakan bahkan punah,” ujar Prof. Novi.

Selain itu, kata Prof. Novi, kegiatan ini merupakan wujud perhatian kita bersama sebagai penanggung jawab dalam lembaga Formal, khusus di lingkungan pendidikan dan juga sebagai bentuk sosialisasi Informasi kepada para pelaku pendidikan, guru, siswa, orang tua, masyarakat luas dan semua khalayak.

“Terutama kepada para pemerintah, selaku bagian penentu strategis dalam pengambil kebijakan dilingkungan formal dan para pengembang Sumber Daya Manusia di lingkungan pendidikan, lingkungan sanggar dan pemerhati pelestari budaya dan seni, para masyarakat, orang tua dan para pendidik”

“Khususnya siswa sebagai generasi muda di perhadapkan dengan berbagai suguhan informasi budaya yang mengalami westernisasi budaya barat yang akan mengikis budaya lokal dan inilah yang akan menjadi dinamika dan tantangan di Era pendidikan yang terus bertransformasi dan yang terus mengglobal,” ujarnya.

Webinar nasional yang diikuti oleh guru dan pengawas, serta mahasiswa angkatan 2019, 2021, dan angkatan 2016 ini turut menghadirkan narasumber lain yaitu, Prof. Dr. Aris Munandar. M.Pd Guru Besar Universitas Negeri Makassar, Dr. Alwarits Nggole, MP adalah salah satu pemerhati seni budaya daerah Gorontalo, Prof. Dr Asna Aneta, M.Si selaku Direktur PPs UNG.

Selanjutnya ada Prof. Dr. Syamsu Qamar Badu, M.Pd, Prof. Dr Evi Hulukati, M.Pd, dan Prof. Dr. Abd Haris Panai, M.Pd adalah Guru Besar UNG, Drs. Titianto Pauweni, M.Pd dan Dr Lukman Kasim, M.Pd yang adalah Kepala Dinas Dikbud Kabupaten dan Kota Gorontalo, serta Andrean Andjar, M.Si, Irwan Abudi Usman, M.Pd, dan La Ode Karlan, M.Pd selaku mahasiswa dari S3 Ilmu Pendidikan PPs UNG.