FIP UNG – Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini FIP UNG kembali menyelenggarakan kegiatan Webinar on Early Childhood Curriculum bertema “Global Perspectives on Early Childhood Curriculum Development” yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Senin 11 Mei 2026. Webinar ini menghadirkan keynote speaker internasional, Ms Cui Jina, bersama para akademisi yang membahas sistem pendidikan dasar dan perkembangan kurikulum di China sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Para akademisi tersebut adalah Dr. Pupung Puspa Ardini, S.Pd., M.Pd, Yenti Juniarti, S.Pd., M.Pd, Sulastya Ningsih, S.Pd., M.Pd, dan Sri Rawanti, S.Pd., M.Pd. Kegiatan webinar ini dimoderatori oleh Rahmat Olii, S.Pd., M.Pd.
Kegiatan ini menjadi ruang diskusi akademik bagi mahasiswa, dosen, dan praktisi pendidikan untuk memahami bagaimana China membangun sistem pendidikan dasar yang merata, modern, dan berorientasi pada pengembangan karakter siswa sejak usia dini.
Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa pendidikan dasar publik di China berlangsung selama enam tahun dan bersifat wajib bagi anak usia 6 hingga 12 tahun. Pemerintah China menyediakan pendidikan dasar secara gratis, termasuk buku pelajaran, sebagai bentuk komitmen dalam pemerataan akses pendidikan bagi seluruh masyarakat.
Salah satu keunggulan sistem pendidikan China adalah penggunaan kurikulum nasional yang diterapkan secara seragam di seluruh wilayah negara. Kebijakan ini bertujuan menciptakan kualitas pendidikan yang lebih adil dan merata bagi seluruh siswa.
Webinar juga mengulas bahwa kurikulum pendidikan dasar di China tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan pengembangan potensi siswa secara menyeluruh. Nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan sikap menghormati orang lain menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.
Selain itu, pendidikan di China turut mendorong penguatan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, serta keterampilan hidup yang relevan dengan perkembangan zaman. Mata pelajaran utama yang diajarkan di sekolah dasar meliputi Bahasa Mandarin, Matematika, Pendidikan Moral, Olahraga, Seni, dan Sains. Sementara itu, mulai kelas 3 siswa mulai mempelajari Bahasa Inggris, Teknologi Informasi, dan Pendidikan Kerja.
Dalam sesi diskusi, dijelaskan pula bahwa Bahasa Mandarin dan Matematika menjadi fokus utama dalam pendidikan dasar di China karena dianggap sebagai fondasi penting bagi perkembangan akademik siswa. Namun demikian, metode pembelajaran yang diterapkan kini semakin berorientasi pada siswa (student-centered learning).
Guru tidak lagi hanya menggunakan metode ceramah, tetapi mulai menerapkan aktivitas kelompok, permainan edukatif, eksperimen, serta pembelajaran berbasis praktik untuk meningkatkan keterlibatan siswa di kelas. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih aktif, menyenangkan, dan bermakna.
Webinar juga menyoroti kebijakan Double Reduction yang diterapkan pemerintah China untuk mengurangi tekanan belajar siswa. Kebijakan tersebut dilakukan dengan mengurangi beban pekerjaan rumah dan intensitas ujian agar siswa memiliki keseimbangan antara belajar, bermain, dan pengembangan diri.
Selain aspek akademik, sistem penilaian di China kini juga mempertimbangkan partisipasi siswa, tugas praktik, proyek pembelajaran, hingga perkembangan karakter. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan pendidikan dasar di China tidak hanya membentuk siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga sehat, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab.
Melalui webinar internasional ini, peserta memperoleh wawasan baru mengenai praktik pendidikan global yang dapat menjadi inspirasi dalam pengembangan kurikulum dan inovasi pembelajaran di Indonesia, khususnya pada pendidikan anak usia dini dan sekolah dasar.





