FIP UNG – Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini FIP UNG sukses menyelenggarakan kegiatan Webinar on Early Childhood Curriculum dengan mengangkat tema “Global Perspectives on Early Childhood Curriculum Development” pada Sabtu, 09 Mei 2026 secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menghadirkan keynote speaker internasional, Ms Danielle Kim, serta para narasumber akademisi yang membahas perkembangan kurikulum pendidikan anak usia dini dan pendidikan dasar di Korea Selatan. Para narasumber akademisi tersebut adalah Dr. Pupung Puspa Ardini, S.Pd., M.Pd, Yenti Juniarti, S.Pd., M.Pd, Sulastya Ningsih, S.Pd., M.Pd, dan Sri Rawanti, S.Pd., M.Pd. Kegiatan webinar ini dimoderatori oleh Rahmat Olii, S.Pd., M.Pd.
Webinar ini menjadi wadah akademik untuk memperluas wawasan mahasiswa, dosen, dan praktisi pendidikan mengenai sistem pendidikan modern yang diterapkan di Korea Selatan, khususnya dalam menghadapi tantangan era digital dan perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa Korea Selatan menerapkan sistem pendidikan 6-3-3-4, yaitu enam tahun sekolah dasar, tiga tahun sekolah menengah pertama, tiga tahun sekolah menengah atas, dan empat tahun pendidikan tinggi. Pendidikan dasar menjadi bagian dari pendidikan wajib nasional yang dimulai dari kelas 1 hingga kelas 6.
Materi webinar juga mengulas revisi Kurikulum Korea Selatan Tahun 2022 yang dikembangkan langsung oleh Ministry of Education. Kurikulum terbaru ini dirancang untuk menyesuaikan kebutuhan pendidikan masa depan dengan menekankan penguatan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, pemecahan masalah, serta literasi digital. Pendekatan pembelajaran tidak lagi berfokus pada hafalan dan ujian semata, tetapi lebih mengarah pada pengembangan kompetensi siswa secara menyeluruh.
Pada jenjang awal sekolah dasar, proses pembelajaran dirancang lebih menyenangkan melalui pendekatan bermain, pembentukan karakter, penguatan literasi dasar, serta adaptasi siswa terhadap lingkungan sekolah. Mata pelajaran diberikan secara terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari, meliputi Bahasa Korea, Matematika, pendidikan etika, eksplorasi sosial, seni, hingga pendidikan keselamatan.
Sementara itu, pada kelas 3 hingga kelas 6, pembelajaran mulai diarahkan lebih akademik dan terstruktur. Mata pelajaran seperti Bahasa Inggris, Ilmu Sosial, Sains, Pendidikan Moral, Seni, Musik, dan Pendidikan Jasmani mulai diperkuat. Bahasa Inggris sendiri mulai diajarkan sejak kelas 3 dengan fokus pada kemampuan komunikasi, terutama keterampilan berbicara dan mendengarkan.
Salah satu pembahasan menarik dalam webinar ini adalah transformasi metode pembelajaran di Korea Selatan yang kini semakin berpusat pada siswa (student-centered learning) dan berbasis kompetensi. Pemerintah Korea Selatan bahkan mulai memperkenalkan buku digital berbasis AI pada beberapa mata pelajaran sejak tahun 2025 sebagai bagian dari inovasi pendidikan nasional.
Selain itu, peserta webinar juga diperkenalkan dengan program Neulbom School, yaitu program after-school yang mendukung pengasuhan dan pembelajaran tambahan bagi siswa sekolah dasar. Program ini bertujuan membantu perkembangan anak sekaligus mendukung keluarga pekerja melalui layanan pendampingan belajar setelah jam sekolah berakhir.
Melalui webinar ini, peserta memperoleh pemahaman bahwa reformasi pendidikan di Korea Selatan terus bergerak menuju sistem pembelajaran yang modern, fleksibel, dan relevan dengan kebutuhan global. Pendidikan tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, penguatan keterampilan abad ke-21, serta kesiapan menghadapi perkembangan teknologi di masa depan.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi dalam pengembangan kurikulum dan inovasi pembelajaran di Indonesia, khususnya pada pendidikan anak usia dini dan pendidikan dasar.





