FIP UNG

Makna dan Tujuan MTQ, oleh: Dr. Rusdin Djibu, M.Pd

fip.ung.ac.id, Gorontalo – Menjadi narasumber pada pembukaan kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Kecamatan Kota Tengah Kota Gorontalo, Senin (18/03/2024), bertempat di Auditorium Kantor Camat Kota Tengah Kota Gorontalo, Dr. Rusdin Djibu.M.Pd menyampaikan materi tentang Makna dan Tujuan MTQ.

Dalam materinya, dosen tetap Jurusan Pendidikan Masyarakat (Penmas) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo (FIP UNG) itu mengatakan, belakangan ini di layar kaca banyak menayangkan berbagai macam audisi bakat vocal. Pencarian bakat menjadi dambaan ribuan kaum muda untuk sekedar mencari peruntungan lewat audisi kesenian tersebut atau sekedar ingin menjadi artis dadakan.

“Pada dasarnya, Islam membolehkan umatnya mengadakan perlombaan, audisi, kontes, dan lain sebagainya selama maksud, niat dan tersebut tidak melanggar syari’at. Lebih-lebih jika kegiatan tersebut menunjang hal-hal yang diperintahkan Syari’at”

“Salah satunya adalah jenis kompetisi atau musabaqah dalam bidang al-Qur’an, yakni yang lebih dikenal dengan Musabaqah Tilawatil Qur’an atau disingkat MTQ. Kegiatan ini dinilai merupakan sarana syi’ar Islam dan juga merupakan audisi bibit-bibit berbakat di bidang seni Qur’an”

“Pada zamannya, Rasulullah SAW Sejarah MTQ adalah seorang qari’ yang membaca Qur’an dengan suara indah dan merdu. Abdullah bin Mughaffal pernah mengilustrasikan suara Rasulullah dengan terperanjatnya unta yang ditungangi Nabi ketika melantunkan  surat al-Fath. Para sahabat juga memiliki niat yang besar terhadap ilmu nagham ini,” ujar Rusdin Djibu.

Rusdin Djibu mengatakan, sejarah mencatat sejumlah sahabat yang berpredikat sebagai qari’, di antaranya adalah Abdullah Ibnu Mas’ud dan Abu Musa Al Asy’ari. Pada periode tabi’in, tercatat Umar bin Abdullah Aziz dan Safir Al Lusi sebagai qari’ kenamaan. Metode sima’i, talaqqi, dan musyahafah merupakan satu-satunya cara dalam mentransmisikan lagulagu Al-Qur’an.

“Di Indonesia sendiri tercatat, bahwa MTQ sudah sejak lama dilombakan baik di pelosok perkampungan, tingkat Kecamatan, Kabupaten dan Kota, Provinsi bahkan Tingkat Nasional yang biasanya diadakan pada hari-hari besar Islam. Bermula dari MTQ Nasional pertama di Makasar (1968) yang hanya diikuti untuk golongan dewasa, kemudian berkembang menjadi 5 cabang kegiatan pada MTQ ke-13 di Padang”

“Cabang-cabang tersebut kemudian berkembang lagi menjadi MTQ (Tilawah), MHQ (Hafalan), MFQ (Fahmil Qur’an), MSQ (Syarh), MKQ (Khat), Musabaqah Makalah Ilmiah al-Qur’an (M2IQ). Masing-masing cabang terdiri dari golongan anak, remaja dan dewasa. Menariknya, MTQ bahkan mengakomodir peserta tunanetra dan wanita”

“Saat ini cabangcabang MTQ sudah mulai bervariasi di antaranya yaitu cabang tafsir Arab, Indonesia dan Inggris, yang dimulai sejak masa Menteri Agama Said Agil Husein Al-Munawwar. Makna dan Tujuan MTQ Musabaqah artinya saling mendahului, saling berpacu, adu kecepatan atau balapan. Musabaqah juga berarti perlombaan, kompetisi, kontes. Al-Qur’an mempergunakan kata musabaqah dalam bentuk kata kerja (fi’il) yang berarti berlomba-lomba,” jelasnya.

Lebih lanjut, Rusdin Djibu mengungkapkan bahwa dalam surat al-Baqarah ayat 148 dan surat al-Maidah ayat 48 umpamanya, Allah berfirman: “fastabiqu al-khairat” yang artinya: “Maka berlomba-lombalah kamu sekalian (dalam mengerjakan) berbagai kebaikan”. Musabaqah adalah isim mashdar yang berarti perlombaan. Tilawah memiliki arti hampir mirip dengan kosakataqiro’ah. Dalam al-Qur’an, kata qiro’ah disebutkan pada QS. 17:14, QS. 16:98, QS. 18:27, QS. 8: 2.

“Tujuan MTQ adalah untuk mendekatkan jiwa umat Islam kepada kitab suci dan meningkatkan semangat membaca, mempelajari, serta Mengamalkan Al-Qur’an. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa MTQ merupakan perlombaan yang memadukan antara suara merdu, keharmonisan lagu/irama tanpa melanggar kaidah tajwid dan diiringi dengan adab membaca al-Qur’an”

“Menurut Jalaluddin As-Suyuti dalam Al-Itqan fi Ulumil Qur’an: “Al-Qur’an memiliki keistimewaan dari deskripsi penyusunan yang menakjubkan, penggunaan kalimat yang unik yang tidak ditemui baik sebelum dan sesudah turunnya al-Qur’an”. Hukum perlombaan dalam MTQ mengikuti konsep ushul fiqh: maslahahmursalah”

 “Pemenuhan kebutuhan umat Islam dalam hal seni budaya ini juga relevan dengan konsep sad azzari’ah, untuk mengimbangi seni budaya asing. Dalam MTQ para peserta diharapkan tidak meniatkan membaca al-Qur’an untuk mengadu nasib, sehingga menghilangkan rasa ikhlas (niat karena lillahiTa’ala),” jelasnya lagi.

Ia mengatakan, maka diharapkan pesertanya menjauhi riya’ dan sum’ah, serta keinginan untuk mendapatkan dunia (hadiah) dari amalan agama yang tengah dia kerjakan. “Sasaran yang diminta menurut syara’ tiada lain yaitu memperindah suara yang dapat mendorong untuk merenungkan dan memahami Al- Qur’an yang mulia dengan khusyu’, tunduk, dan patuh penuh ketaatan.

“Adapun suara-suara dengan lagu yang diada-adakan yang terdiri atas nada dan irama yang melalaikan, serta aturan musikal, maka Al-Qur’an adalah suci dari hal ini dan tak layak jika dalam membacanya diperlakukan demikian.” (Ibnu Katsir-Fadhaa’ilul Qur’an: 125-126). Teknis membaca al-Qur’an jauh lebih baik ketimbang teknik-teknik audisi di TV. Qari’ yang baik memiliki suara yang bagus, nafas panjang, penguasaan lagu, dan dialek yang bagus”

“Dalam tatanan seni baca Al-Qur’an, tingkatan nada dikenal ada empat tahap, yakni qarar (rendah), nawa (sedang), jawab (tinggi), danjawabul jawab (sangat tinggi). Untuk melengkapi ilmu qiraah dan kepekaannya, maka pembelajaran qira’ahnya senantiasa dilengkapi dengan ilmu tajwid, makharijul huruf (ilmu pelafalan al-Qur’an),dzauq (cita rasa bahasa), dan sebagainya,” ujarnya.

Menurutnya, kepekaan terhadap makna isi al-Qur’an ini lebih digunakan sebagai instrument mengasah diri untuk memiliki dzauq (perasaan) ilahiyah. Karena hanya dengna dzauq ilahiyah inilah, para peserta MTQ diharapkan memiliki rasa khauf pada Allah, sebagai pondasi dasar membangunmental dan moral yang islami.

Dzauq (perasaan rindu dan rendah diri di hadapan Allah) perlu diasah sehingga baik pembaca, pendengar dan pendidik dapat menyentuh hatinya untuk mengagungkan kalam Ilahi tersebut. Sebut saja qari’ asal Mesir, Syeikh Siddiq al-Minsyawi, yang dengan kehalusan jiwanya banyak membuat pendengar merasa lebih dekat dengan penciptanya”

“Imam Masjidil Haram, Syeikh Sudaisdan Suraim, juga kerapkali menangis tersedu-sedu ketika membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Sejarah mencatat, hati Jubair bin Muth’im serasa terbang ketika mendengar Rasulullah membaca salah satu ayat al-Qur’an.(Jalaluddin Assuyuti, Al-Itqan fi Ulumil Qur’an: 314)”

“Di Indonesia sendiri banyak Qari dan Qariah yang menjuara Tungkat Internasional seperti Muammar ZA, Humaidi, Maria Ulfah dan Sarini Abdullah dari Gorontalo bahkan sampai sekarang sudah puluhan orang para Qari dan Qariah, Hafidz dan Hafidzah serta Mufassir Mufassirah juara MTQ Internasinal untuk semua cabang dan golongan. Insyaa Allaah Qari dan Qariah Provinsi Gorontalo ada bisa mengikuti jejak Hj. Sarini Abdullah Juara 1 Internasional tahun 1977 di Negara Malaysia,” pungkasnya.